Monday, August 9, 2010
lagi lagi realita
…
Ibu : mbak, katanya si ani (nama disamarkan), pembantu kita yang dulu itu katanya mau nikah
Saya : nikah? Orang anak masih kecil gitu. Nikah sama kambing kali
Ibu : yeh kamu kan kalo diajak ngobrol bercanda melulu. Beneran katanya mau nikah nanti abis lebaran.
Saya : *balik badan dan mulai serius*
Ibu : beneran. Nanti abis lebaran katanya.
Saya : maaaaaak! Orang dia aja dua tahun dibawah aku kok -___-
…
Dari percakapan singkat itu, saya tiba-tiba ngerasa takut karena udah lebih tua dari dia tapi ga laku-laku. Loh? Haha kembali serius.
Ya, dari percakapan singkat itu saya jadi takut dengan budaya, tradisi, atau apapun kita menyebut itu yang terus-terusan melestarikan budaya menikah muda. Mudanya dalam artian masih di bawah 20 tahun, buat saya ini batasnya. Sebenernya kenapa si budaya itu masih terus dijaga? Apa sih manfaatnya kalau mereka melakukan hal itu? Kenapa sih tidak ada yang berusaha untuk berpikir jauh dan meninggalkan budaya itu? Apa sih dampak yang akan ditimbulkan kalau tradisi itu ditinggalkan? Masih banyak kenapa yang tidak bisa dituliskan semuanya tentang hal ini berkecamuk di otak saya.
Budaya menikah di usia yang sangat belia ini masih sering sekali kita temui di Indonesia. hal ini akan banyak kita temukan di daerah-daerah pinggiran kota besar, apalagi kalau kita melihatnya lebih jauh lagi ke pelosok disana akan lebih banyak lagi ^^ saya pernah dengar cerita ibu, setelah beliau melakukan sebuah perjalanan ke sebuah pelosok daerah Jawa Barat. Beliau cerita bahwa beliau bertemu dengan seorang gadis berusia 15 tahun yang ternyata sudah Janda. Janda? Bayangkan dengan usia yang masih usia sekolah, dia sudah pernah mencicipi sebuah kehidupan berumah tangga, bahkan sudah juga mencicipi bagaimana mengakhirinya.
Pernah juga suatu ketika saya membaca sebbuah cerita di majalah yang menceritakan seorang wanita berusia 17 tahun yang sudah memiliki dua anak. Disaat saya yang juga berumur sama masih sangat senang beermain dan mengembangkan diri, dia sudah harus memikul beban sebagai seorang istri dan ibu. Di saat saya masih seneng jalan dan main sama ibu ayah, dia sudah harus senang bermain sama suami dan anak-anaknya. Disaat saya masih sering berkumpul dengan teman-teman untuk rapat atau hanya sekedar mengobrol, dia sudah harus diam di rumah dan mengerjakan segala macam tugas seorang ibu rumah tangga.
Sungguh, tidak pernah terbayang dalam benak saya akan terjadinya hal seperti itu dalam hidup saya. Hidup itu pilihan dan saya sudah memilih untuk menunda hal seperti itu sampai saya benar-benar siap.
Sekali waktu saya berpikir, mungkin lingkungan juga yang memaksa mereka untuk menikah di usia yang sangat belia. Beberapa kelompok masyarakat masih beranggapan bahwa ketika seorang gadis belum menikah sementara teman sebayanya sudah mayoritas menikah, maka gadis itu dianggap tidak laku. Bahkan beberapa orang tua mengaku malu ketika anaknya belum menikah, sementara teman-teman sebayanya sudah. Apakah menikahkan anaknya yang masih belia itu dianggap sebagai sebuah kebanggaan?
Sebenarnya saya tidak akan berbicara banyak tentang hal ini, kalau saya juga bukan seorang wanita. Entah bagaimana pandangan kaum lelaki tentang hal ini, tetapi bagi saya ini adalah sebuah lampu merah untuk perkembangan diri seorang wanita. Mayoritas dari mereka yang menikah belia, lahir dari orang tua yang memiliki pendidikan yang rendah dan yang menganggap bahwa pendidikan bukanlah hal yang utama. Mungkin juga mereka lahir dari orang tua yang belum menghargai dan memandang wanita itu setara dengan laki-laki dalam beberapa hal, terutama pendidikan. Mereka menikahkan anaknya agar anaknya dapat segera memiliki pasangan yang mungkin dapat menunjang hidup anaknya lebih baik dari mereka. Miris sebenarnya ketika saya tau bahwa mayoritas itu adalah alasan utama mengapa banyak terjadi pernikahan di usia belia.
Kalau saja mereka berpikir untuk menunda hal tersebut sedikit lebih lama, setidaknya sampai anaknya benar-benar menyelesaikan pendidikannya 12 tahun. Mungkin anak mereka akan mendapatkan nasib yang lebih baik. Jadi ingat perkataan seseorang, jika ingin mendapatkan yang baik, maka jadilah baik juga. Intinya dalam hal ini, jika para gadis itu sedikit berpendidikan, mungkin dia bisa mendapatkan suami yang jauh lebi berkualitas dari mereka yang menikah saat lulus SD atau SMP. Bukan berarti saya berani mengatakan bahwa hal itu mutlak, sekali lagi ada Allah yang menentukan. Atau ketika tujuan mereka memang hanya untuk lebih meningkatkan taraf hidup anak-anaknya, dengan membiarkan mereka mengenyam pendidikan sedikit lebih lama lagi juga dapat sedikit meningkatkan taraf hidup anaknya. Sekali lagi, ini bukan hal mutlak.
Menyangkut ke masalah kesehatan. Banyak penyakit yang akan diderita oleh wanita dengan risk factor berupa hubungan sexual dini. Dimana hal ini bukan tidak munkin akan terjadi, ketika seorang gadis menikah dalam usia yang belia. Kalau bisa dicegah, kenapa harus dilakukan? Tunggu, sekarang pertanyaannya adalah apakah mereka tau tentang hal ini? Apakah mereka tau akan banyak penyakit yang mengancam nyawa seorang gadis ketika dia dibiarkan menikah dan berhubungan sexual pada usia yang masih sangat belia? Ya, belum tentu semua orang tahu. Atau mungkin bahkan mayoritas mereka tidak tahu. Solusinya? Ya beri tahu. Berikan mereka pendidikan dalam hal ini. Ada celah ni buat kita memperbaiki nasib wanita bangsa dalam hal ini. Tergerakkah?
Yaaaah, sudahlah. Saya ga tau lagi harus ngomong apa. Haha ini hanya pikiran sok tau yang tiba-tiba melintas
Sekali lagi, hidup ini pilihan. Dan untuk mereka yang sudah memilih untuk melakukan pernikahan di usia yang masih kecil, semoga kalian akan terus mempertahakannya.
Teman-teman mahasiswa, agent of change, adakah hati yang tersisa untuk sedikit bergerak untuk ini?
Thursday, July 8, 2010
mahasiswa?
sebuah tulisan yang harusnya dibuat sekitar 5 buan yang lalu. Sebuah tulisan hasil tantangan seseorang. Sebuah tulisan yang mungkin menggambarkan sejauh mana saya memandang status mahasiswa. Sebuah tulisan yang mungkin menunjukan sejauh mana idealism saya sebagai seorang mahasiswa. Sebuah tulisan yang dibuat dengan semangat yang membara. Sebuah tulisan yang dibuat dengan harapan dapat menginisiasi sesuatu, setidaknya inisiasi untuk semangat di dalam hati kecil kalian, mahasiswa..
suatu hari saya bertanya pada seseorang, “kak, sebenernya peran mahasiswa itu apa aja si?”
kemudian orang yang saya Tanya hanya menjawab, “mau dijelasin? Kalo gitu namanya bukan mahasiswa”
dari situ saya tertantang untuk mencari jawabannya sediri. Setelah membaca berbagai sumber dan menarik kesimpulan, lalu memikirkan sedikit bagaimana menurut saya, akhirnya saya memberanikan diri untuk bertemu lagi ke orang itu.
“kak, boleh diskusi? Saya sudah sedikit tahu, sekarang butuh pemahaman.”
“saya lagi sibuk de, kamu tulis aja, nanti saya baca sejauh mana kamu ngerti dan baru deh kita diskusi. Oke?”
Akhirnya saya Cuma garuk-garuk kepala, lalu selesai saja sudah sampai disitu topic itu.
***
Mahasiswa. Ketika kata itu dihadapkan kepadamu, maka apa yang akan kamu pikirkan? Setiap orang pasti punya pemikiran yang berbeda mengenai kata ini.
1. Oh, mahasiswa mah orang-orang pinter, sekolahnya tinggi. Bapaknya punya duit banyak jadi dia bisa sekolah tinggi. (jawaban versi orang berpendidikan rendah yang tidak mengetahui urgensi pendidikan dan tidak punya uang)
2. Mahasiswa itu tukang demo, bikin kerusuhan, bikin macet jalanan, ngerusak barang-barang. (jawaban versi orang yang tukang nonton berita, tapi langsung nelen bullet-bulet beritanya tapa dipikir ulang)
3. Mahasiswa? Oh mereka orang-orang yang kerjaannya pulang malem, sabtu minggu ga pernah ada di rumah, jarang punya waktu buat adik-adiknya. Kalo pulang sampe rumah tidur doing sama minta duit. (jawaban versi adeknya seorang mahasiswa yang mungkin organisatoris parah atau malah yang kerjanya Cuma jalan-jalan doing.)
4. Mahasiswa itu satu-satunya kaum yang berani nentang pemerintah. (jawaban versi orang yang suka nonton berita dan baca Koran yang selalu baik sangka sama mahasiswa)
5. Mahasiswa mah itu yang suka bantu-bantu di desa ini. Da baik mereka mah (jawaban seorang ibu rumah tangga di sebuah desa yang menjadi target desa binaan oleh sekelompok mahasiswa)
6. Mahasiswa itu satu periode waktu buat lo seneng-seneng dan bebas tanpa aturan. (jawaban seorang mahasiswa tukang main)
7. Mahasiswa itu agent of change, iron stock, moral force, dll. (jawban seorang organisatoris yang sering dicekokin materi beginian *termasuk saya*)
8. Dll.
Satu kata itu saja bisa menimbulkan banyak interpretasi tergantung orangnya menilai dari sisi apaa, kepada mahasiswa yang bagaimana, dan bagaimana orang yang menilai itu sendiri. Lantas, bagaimana dengan peran mahasiswa? Orang definisinya aja susah dan ga pasti begitu.
Karena saya mahasiswa, maka saya akan mencoba untuk menjabarkannya secara intelek *sedikit intelek maksudnya :D*
Sebenarnya, menurut berpuluh-puluh mahasiswa yang saya tanyakan, ada satu kata yang selalu saya dengar, idealisme. Seorang mahasiswa, pasti punya idealitas, tapi kadarnya sampai mana itu yang tergantung pada setiap orangnya.
Kita bisa menelaah lagi saat zaman prakemerdekaan, kemerdekaan, dan pasca kemerdekaan. Sebut saja peran Boedi Oetomo tahun 1908, sumpah pemuda tahun 1928, dan puncaknya saat kemerdekaan tahun 1945. Disana dapat kita temukan beberapa momen yang diciptakan oleh mahasiswa, yang berujung pada harumnya nama mahasiswa. Pada saat itu, posisi mahasiswa sangat eksklusif dan krusial, dimana sebagian besar dari mereka adalah para pelopor atau motor. Pembakar semangat kepemudaan, pencipta ide-ide segar dan ekstrim, dan gerakan-gerakan lain yang mendorong terus penciptaan sebuah kemerdekaan.
Dapat dilihat juga pada zaman peruntuhan rezim orde baru dan orde lama, diamana inisiasi langkah awal penjatuhan tersebut berasal dari mahasiswa. Walaupun banyak elemen pemerintahan yang pro reformasi dan dalam pelaksanaannya, semua lapisan masyarakat turut serta, tetap saja mahasiswa merupakan ujung tombak perjuangan. Maka pantas, ketika seorang mahasiswa disebut sebagai agent of change dan social control untuk negaranya.
Secara moralitas, mahasiswa harusnya dapat berbuat lebih baik dari yang lainnya, hal ini dikarenakan dasar mereka sebagai kaum intelektual. Selain itu, mahasiswa juga dituntut untuk peka terhadap semua hal yang terjadi di lingkungannya. Hal itu dikarenakan mereka adalah calon kader masa depan yang harus belajar mulai saat ini bagaimana cara menghadapi, mengayomi, dan mensejahterakan rakyat dari sekarang.
Mahasiswa juga berhak melakukan kritisi terhadap pemerintahan yang berjalan tidak sesuai dengan aturan yang sudah diberlakukan. Dan sebagai wujud kepeduliannya terhadap masyarakat, maka mahasiswa juga diharapkan dapat melaukan pengabdiannya kepada masyarakat dengan sungguh-sungguh. Pengabdian dapat dilakukan dalam bidang apa saja. Ir. Rachmat Witoelar berkata bahwasanya ilmu yang didapat di pergruan tinggi itu hanyateknis semata, sementara pengabdian masyarakat adalah suatu hal yang essensial.
Dalam bidang teknologi, sebagai agent of change mahasiswa harusnya dapat membawa inovasi inovasi baru terhadap perkembangan teknologi yang memang masih minim di Inodnesia. Analisis terhadap keadaan di suatu masyarakat oleh mahasiswa juga dapat berlanjut pada tahap aksi pengubahan masyarakat itu menjadi lebih baik (peningkatan status kehidupan), hal ini merupakan kontribusi mahasiswa dalam bidang social. Dan masih banyak lagi yang dapat dilakukan oleh mahasiswa untuk negaranya.
***
Hehe. Segitu saja dulu tulisan tentang ini. Berlanjut ke part2 J
Tuesday, June 22, 2010
kenapa harus menulis?
kadang gue cuma tertawa ngeliat itu, dalam hati ngedumel kenapa harus essay si? dikira gampang apa bikin essay. di lain kadang, gue cukup seneng si kalo syaratnya cuma essay dan gue pengen banget ikut workshop itu. alhamdulillah Allah ngasih gue sedikit kelebihan untuk mencintai dunia menulis.
tapi kebanyakan kadang, gue sedih liat syarat kaya gitu. terutama disaat gue ingin banget ikut acaranya, tetapi gue sedang ga bisa nulis. dan itu banyak dialami sama temen-temen gue juga.
kenapa harus essay? kenapa harus essay? itu yang selalu gue lontarkan di dalam otak gue.
ga fair menurut gue. apa kemampuan seseorang cuma di liat dari essay? apa kecanggihan dan keunikan pemikiran seseorang cuma dilihat dari sebuah tulisan saja? lantas, gimana dong nasib-nasib mereka yang luar biasa tetapi tidak suka menulis? kasian dong mereka masa pengembangan dirinya cukup sampai situ aja. sedangkan mereka yang jago nulis, bisa aja terus melaju. kaya contoh kasus gue, kemarin gue lolos salah satu workshop leadership bergengsi di Indonesia, daftar bareng sama temen gue yang menurut gue luar biasa lah. gue si ga ada apa-apanya lah dibanding dia mah. eh yang lolos malah gue! nah itu karena gue suka dan sudah cukup terbiasa dengan menulis. ga fair kan bbuat temen gue yang jago itu?
hmm. menurut gue bikin essay tu bukan pekerjaan main-main. ada bagian dari jiwa yang ditiupkan ke dalam tulisan itu saat kita menulis. fungsinya buat bikin tulisan itu hidup. bisa ngajak semua yang baca ngerasain juga apa yang kita tulis. yah kasarnya mah memainkan perasaan orang lain lah hehe. dan buat gue itu satu senjata ampuh buat tulisan-tulisan gue kemarin-kemarin.
makanya, menulis itu buat gue ga bisa dipaksakan. karena kalo dipaksa yang ada gue malah ngaco nulisnya dan ga ada gregetnya kalo kata sherina *goblok gue :D
jadi, buat yang mau bikin workshop-workshop gitu yaa mending cari cara yang lebih efektif lagi. lebih baik mengembangkan orang yang memang punya kompetensi dasarnya dulu, baru nanti biarkan mereka yang membina yang lain. hehe
Monday, June 21, 2010
sedikit catatan untuk korupsi
Korupsi secara sederhana dapat diartikan sebagai suatu tindakan mengambil bagian yang bukan haknya. Jadi ternyata korupsi itu terlalu luas untuk diartikan hanya dengan korupsi yang dilakukan oleh pejabat-pejabat pemerintahan yang selama ini banyak disorot oleh media dan menjadi fokus utama pemerintah..
Korupsi merupakan suatu tindakan yang rasional, beralasan dan bertujuan untuk dilakukan. Setiap tindak korupsi merupakan bentuk interaksi. karena pada setiap kasusnya akan melibatkan setidaknya dua pihak. Pihak pertama adalah mereka yang melakukan tindak korupsi dan pihak kedua merupakan pihak yang dirugikan karena tindak korupsi tersebut. Terkadang pihak ketiga juga terlibat sebagai saksi, dimana transaksi korupsi tersebut tidak secara keseluruhan terlihat transparan oleh pihak ketiga.
Saya tidak memungkiri bahwa sering kali saya menjadi seorang pelaku korupsi. Bukan korupsi berat seperti yang dilakukan oleh para pejabat pemerintahan tentunya, tindakan kecil yang bisa juga dikategorikan sebagai korupsi. Terlambat misalnya. Sebuah bentuk kecil dari tindak korupsi terhadap waktu. Ditinjau dari teori diatas, saya adalah seorang pelaku korupsi yang merugikan orang lain. Sedangkan orang yang menunggu saya adalah pihak kedua yang dirugikan karena keterlambatan saya. Dan saya mengambil hak waktu yang sebenarnya bukan milik saya.
Jadi itu lah korupsi. Sebuah tindakan simple yang bisa berkembang menjadi suatu permasalahan utama di Indonesia. menurut saya, lebih baik tidak usah berusaha untuk memperbaiki orang-orang yang sudah mencintai budaya korupsinya, tetapi langkah yang harusnya kita lakukan adalah mencegah agar tidak tumbuh lagi makhluk-makhluk cerdas pecinta korupsi di masa mendatang. Dimulai dari yang kecil, kedisiplinan mungkin.
Jadi, buat ibu-ibu yang lagi hamil, jangan kebanyakan nonton berita yang isinya korupsi. Nanti anaknya terbiasa mendengar dan akrab sama kata korupsi :D
Monday, April 5, 2010
untuk sebuah pengabdian..
pengabdian, sebuah kata yang mungkin familiar di setiap telinga manusia. bahkan sudah menjadi sebuah identitas untuk kami yang berada di seksi Pengabdian Kepada Masyarakat FK UNPAD.
teman, mungkin kalian punya satu pemikiran yang sama dengan saya. teman, mungkin bukan hanya saya yang berpemikiran sempit tentang sebuah pengabdian. teman, percayalah bahwa pengabdian itu tidak sempit.
ketika berbicara tentang pengabdian, mungkin ilustrasi yang tergambar di benak sebagian kita adalah ketika kita turun ke sebuah bencana berusaha menjadi seorang pahlawan kesiangan yang semampu kita membantu masyarakat. atau mungkin ketika kita datang ke sebuah kelompok masyarakat dan memberikan sesuatu untuk mereka, entah itu barang atau jasa.
saatnya merubah mindset kita tentang itu teman, karena pengabdian ternyata tidak hanya itu. karena pengabdian itu adalah sebuah kata yang lebih kompleks dari hanya penggambaran seperti itu.
bantu saya mendefinisikan pengabdian ini teman-teman. karena saya pun belum paham akan itu.
saya pernah berbincang dengan seseorang tentang ini. dan saya cukup tertampar dengan semua penjelasan yang dia berikan. semua itu seakan menyadarkan saya dengan semua mindset bodoh yang bertengger di otak saya selama ini tentang pengabdian. pengabdian yang dia gambarkan menjadi sesuatu yang kompleks.
pernah ga kalian terpikir ketika kita mengadakan sebuah workshop akan skill medis yang sekiranya akan berguna untuk terjun ke masyarakat atau workshop pencerdasan ke mahasiswa lain tentang kondisi masyarakat, itu juga merupakan sebuah pengabdian?
atau mungkin, pernah tidak kalian terpikir ketika berdiskusi dengan seorang teman, bertukar pikiran akan sesuatu, dan kemudian akhirnya memuaskan kebutuhan mereka akan pengetahuan tersebut, itu juga merupakan pengabdian?
atau ketika kalian berada di rumah dan kemudian membantu orang tua kalian melakukan sesuatu, walaupun pekerjaan yang kecil dan sepele. itu adalah pengabdian.
atau ketika kalian terus menerus meng-upgrade diri kalian dengan suplemen pengetahuan apa pun itu, bahkan itu juga merupakan sebuah pengabdian, teman..
ketika kita selama ini berkutat pada konsep pengabdian masyarakat, yang akhirnya melahirkan pemikiran sempit tentang pengabdian dan juga langkah yang tidak efektif untuk sebuah pengabdian. selama ini kita melihat sasaran yang terlalu jauh untuk sebuah pengabdian. selama ini kita melangkah terlalu jauh untuk sebuah pengabdian.
untuk sebuah pengabdian..
bagaimana kita bisa mengabdi, ketika kita sendiri tidak terisi? bagaimana kita bisa mengajak orang lain untuk mengabdi, ketika mereka pun belum kita jadikan sasaran pengabdian?
yang lebih penting, bagaimana kita bisa mengabdi sedangkan teman-teman kita sesama pengabdi, berubah konsep pengabdiannya menjadi sebuah pengorbanan? pengorbanan, bukan pengabdian. lelah dan hilang. konsep simple pengorbanan yang bertolak belakang dengan pengabdian.
buka mata teman-teman. coba lihat diri kalian, rekan kerja kalian, keluarga kalian, barulah masyarakat..
mungkin untuk konsep kita sebagai sebuah seksi, bisa dimulai dengan melihat diri kita sendiri, kemudian teman-teman satu tim kita, kemudian rekan sejawat satu fakultas kita, lalu universitas kita tercinta, lalu tempat kita berpijak sekarang (Jatinangor), barulah kita bisa memasuki daerah Jawa Barat, Indonesia, Asia Tenggara, Asia, bahkan Dunia.
bukan tidak mungkin nantinya kita akan berkancah di dunia..
pengabdian itu bertahap teman-teman. karena di setiap tahapnya ada pelajaran yang harus kita dapat, ada test yang harus kita lalui untuk sampai ke tahap selanjutnya.
memang lelah, tetapi pengabdian adalah sebuah persembahan dari hati yang tak mati. ketika kita memberikan sesuatu, maka ada yang kita terima dari itu.
kuat dengan menguatkan. tumbuh dengan menumbuhkan. paradox of sharing..
dimulai dari sekarang teman-teman. saatnya memulai pengabdian dalam artiannya yang luas..
semangat temanku, sahabatku, kakakku, ayahku, ibuku, saudaraku, keluarga baruku (PKM senat FK UNPAD)!
untuk sebuah pengabdian..
saya yakin kita semua adalah satu keluarga. saya yakin kita akan bisa menjadi sebuah keluarga yang sesungguhnya, keluarga PKM FK UNPAD.. :)
sebuah hadiah untuk kakakku :)
Untuk Suamiku
Pernikahan atau perkawinan,
Menyingkap tabir rahasia.
Istri yang kamu nikahi,
Tidaklah semulia khadijah,
Tidaklah setaqwa Aisyah,
Pun tidak setabah Fatimah,
Apalagi secantik Zulaikha.
Justru Istrimu hanyalah wanita akhir jaman,
Yang punya cita-cita,Menjadi Sholehah….
Pernikahan atau perkawinan,
Mengajar kita kewajiban bersama,
Istri menjadi tanah, Kamu langit penaungnya,
Istri ladang tanaman, Kamu pemagarnya,
Istri kiasan ternakan, Kamu gembalanya,
Istri adalah murid, Kamu mursyidnya,
Istri bagaikan anak kecil, Kamu tempat bermanjanya.
Saat Istri menjadi madu, Kamulah penawar bisanya,
Seandainya istri tulang yang bengkok, berhatilah meluruskannya.
Pernikahan atau perkawinan,
Mengisyafkan kita perlunya iman dan taqwa.
Untuk belajar meniti sabar dari ridho Allah SWT.
Karena memiliki istri yang tidak sehebat mana,
Justru ……Kamu akan tersentak dari alpa,
Kamu bukanlah Rasullulah,
Pun bukan pula sayyidina Ali Karamallahhuwajhah,
Cuma suami akhir zaman,Yang berusaha menjadi soleh…Amin.
Untuk Istriku
Pernikahan atau perkawinan,
Menyingkap tabir rahasia.
Suami yang kamu nikahi,
Tidaklah semulia Muhammad saw,
Tidaklah setaqwa Ibrahim as,
Pun tidak setabah Ayub as,
Ataupun segagah Musa as,
Apalagi setampan Yusuf as.
Justru Suami hanyalah pria akhir jaman,
Yang punya cita-cita,Membangun keturunan yang Sholeh….
Pernikahan atau perkawinan,
Mengajar kita kewajiban bersama,
Suami menjadi pelindung,
Kamu penghuninya,
Suami adalah nahkoda kapal,
Kamu navigatornya,
Suami bagaikan balita yang nakal,
Kamu adalah penuntun kenakalannya,
Saat suami menjadi raja, Kamu nikmati anggur singgasananya,
Seketika suami menjadi bisa, Kamulah penawar obatnya,
Seandainya suami masinis yang lancang, Sabarlah memperingatknnya.
Pernikahan atau perkawinan,
Mengajarkan kita perlunya iman dan taqwa.
Untuk belajar meniti sabar dari ridho Allah SWT.
Karena memiliki istri yang tidak segagah mana,
Justru ……Kamu akan tersentak dari alpa,
Kamu bukanlah Khadijah, yang begitu sempurna di dalam menjaga,
Pun bukan pula Hajar, yang begitu setia dalam sengsara.
Cuma wanita akhir zaman,Yang berusaha menjadi solehah…Amin.
semoga dapat terus bersama hingga nanti ajal menjemput salah satunya. menguatkan satu dengan yang lain. menjadi inspirator, motivator, penopang, dan partner yang cerdas untuk keduanya. selamat yaa. semoga semua urusannya dilancarkan :)
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. 30:21)
